Hukum & Kriminal Warga Penggarap Lahan Desa Tunggurono Laporkan PTPN2 Ke Poldasu

Warga Penggarap Lahan Desa Tunggurono Laporkan PTPN2 Ke Poldasu

31
0
BERBAGI

MEDAN, SIDIK24 – Sejumlah warga penggarap lahan di Desa Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, Sumatera Utara mengadukan pembersihan lahan PTPN2 ke Polda Sumut, Rabu (21/8/2019). Mereka protes karena sebelumnya pihak PTPN dan warga telah sepakat adanya mediasi.

Seorang warga, T Ginting mengungkapkan mediasi itu mestinya dilakukan sebelum pembersihan. Selasa siang kemarin, pihak perusahaan membawa alat berat lengkap dengan pengamanan dari aparat TNI dan Polri untuk membersihkan lahan yang telah lama mereka garap.

“Kami protes. Sempat bernegosiasi cukup lama, dan disepakati untuk ditunda, dan pihak warga dengan perusahaan akan mediasi dulu di BPN Binjai. Kita tunggu undangan tertulis dari perkebunan,” sebutnya.

Setelah sepakat, warga yang tinggal di Kecamatan Sunggal, Deliserdang itu lantas balik ke rumah. Tetapi, pada sore harinya, pihak PTPN justru melalukannya dengan pengamanan yang lebih besar lagi. Hal ini membuat masyarakat berang, karena pihak perkembunan mengangkangi kesepakatan yang telah diambil beberapa jam sebelumnya.

Warga yang datang melapor ke Polda Sumut tersebut, menggarap lahan Hak Guna Usaha antara 30-40 hektar lahan di Desa Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur. Lahan seluas itu dibagi kepada masing-masing warga seluas 2.000 meter persegi. Lahan ini tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Di lahan yang telah digarap warga selama puluhan tahun itu telah ditanami pohon ubi, jambu air dan sebagian kecil tanaman sawit. Saat ini, proses okupasi dilahan itu masih terus berlangsung karena PTPN2 mengklaim lahan yang digarap warga itu masuk dalam HGU.

Mereka ke Polda Sumut didampingi kuasa hukum untuk meminta perlindungan hukum, karena hingga kini pihak PTPN2 belum menujukkan bukti bahwa tanah itu merupakan HGU. “Kami minta kepada Kapolda Sumut agar okupasi dihentikan sesegera mungkin,” kata kuasa hukum warga, Tiopan Tarigan.

Sebab, sebut Tiopan, proses pembersihan lahan oleh perusahaan itu telah merusak tanaman warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Selama pihak perusahaan belum bisa menujukkan bukti kuat atau dalil yang kuat tentang kepemilikan lahan itu, mereka akan tetap bersikeras menolak.

“Kami minta perlindungan hukum di sini. Karena perusahaan telah melibatkan aparat TNI dan Polri. Hari ini mereka melakukan pembersihan lagi,” katanya.

Koordinator Hubungan Masyarakat (Humas) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2, Sutan Panjaitan mengatakan, pembersihan di areal garapan di Desa Tunggurono, Kebun Sei Semayang dimulai Selasa (13/8/2019). Hingga kini, lahan yang sudah dibersihkan seluas 219,72 hektare dan 61 orang sudah menerima tali asih.

Dijelaskannya, selama ini pihak yang menggarap lahan tersebut telah menggangu tingkat produksi dan pendapatan yang diharapkan perusahaan. Sebelum melaksanakan pembersihan areal HGU bernomor sertifikat 54 dan 55 yang berakhir masa penggunaannya sampai dengan Tahun 2028 dengan luas lebih kurang dari 674,12 Ha.

Diungkapkan Sutan, dri luas tersebut, lahan yang digarap penggarap sekitar 628,12 Ha. Sebelumnya, pihaknya telah melakukan sosialisasi, pendekatan, surat teguran dan memberi tali asih bila ada tanaman dan bangunan sesuai kemampuan perusahaan sebesar Rp2 juta/Ha/ orang.

Proses itu dilakukan setelah melengkapi dan menandatangani beberapa berkas pendukung, Sutan menjelaskan, kepada semua pihak yang masih mengguasai lahan HGU PTPN2 yang tidak mempunyai alas hak menguasai lahan, untuk segera menggosongkan areal HGU milik PTPN2.

“Karena kami semua karyawan PTPN 2 / SPP atas nama perusahaan akan terus bergerak untuk melakukan pembersihan areal HGU milik PTPN2 dari pihak penggarap,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, PTPN II mulai membersihkan lahan hak guna usaha (HGU) di Kebun Sei Semayang Rayon Tunggurono, di Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, Sumatera Utara untuk menggenjot produksi tebu.Lahan itu, selama ini dikuasai oleh para penggarap.

Manajer Kebun Sei Semayang, Romulus Abraham Sitompul mengatakan, saat ini pabrik gula milik PTPN II tidak bisa beroperasi maksimal karena terus kekurangan pasokan tebu. Sebelumnya PTPN II memiliki dua pabrik pengolahan tebu yakni pabrik gula Sei Semayang di Deliserdang dan Kwala Madu di Langkat.

Adapun luas lahan di Tunggurono yang mulai dibersihkan itu seluas 674,12 Ha. Namun demikian tidak semuanya bisa ditanami tebu karena sekitar 180 Ha sudah dikorek tanahnya sehingga hanya sekitar 400 Ha yang bisa ditanami. Dia berharap lahan ini nantinya bisa memproduksi 80 ton tebu per hektar. (zah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here