Kisah Puluhan Tahun Masyarakat Bukit Kijang Asahan Hidup Tanpa Listrik PLN

Puluhan Tahun Masyarakat Bukit Kijang Asahan Hidup Tanpa Listrik PLN

90
0
BERBAGI

ASAHAN, SIDIK24 – Kehidupan masyarakat di Dusun III Bukit Kijang Desa Gunung Melayu Kecamatan Rahuning Kabupaten Asahan, Sumatera Utara terbilang miris. Selama 50 tahun masyarakat didaerah itu hidup dalam kegalapan. Selama puluhan tahun, mereka tak pernah menikmati yang namanya aliras listrik PLN.

Kondisi ini terjadi diakibatkan Pemerintah Kabupaten Asahan tak mampu membayar kepada PT Perkebunan Lonsum, yang meminta ganti rugi atas lahan mereka dipakai untuk lintasan pembangunan aliran listrik menuju perkampungan tersebut.

“Pihak PT Lonsum meminta ganti rugi terkait dengan lahan yang dilintasi jika listrik masuk ke desa kami. Sekitar 288 batang pohon yang akan ditumbangkan, PT Lonsum meminta ganti rugi yang mencapai Rp611 juta,” terang Kepala Desa Gunung Melayu, Syaiful Amri.

Dikatakan, listrik pertama kali bisa dinikmati oleh warga di dusun tersebut pada tahun 2010. Itu pun setelah adanya pengadaan mesin genset berkapasitas besar melalui program PNPM yang dapat mengalirkan listrik ke rumah-rumah warga. Namun, mesin listrik itu tak bertahan lama. Pada tahun 2012 mesin genset tersebut tak bisa lagi difungsikan.

“Tahun 2010 ada pengadaan mesin genset bantuan PNPM, sejak saat itu listrik bisa masuk ke rumah-rumah warga. Setiap hari habiskan solar 25 liter, swadaya dari masyarakat. Beberapa kali rusak, diperbaiki, sampai tahun 2012 rusak total, dan masyarakat pun sudah tak mampu lagi membiyayai mesin tersebut,” ujar Syaiful.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah desa bersama masyarakat sejak Zulpan yang menjabat sebagai Kepala Desa pertama yakni tahun 1972. Sekarang agar jaringan listrik milik PLN bisa masuk ke Dusun III Bukit Kijang, satu-satunya akses harus melintasi perkebunan sawit milik PT Lonsum yang berada di Kecamatan Gunung Melayu.

“Sebelum saya menjabat sebagai Kades, pemerintah desa dan masyarakat sudah pernah juga mengajukan ke pihak PLN, pemerintah (Pemkab) dan DPRD (Asahan), sampai saya menjabat sebagai kades selama 2,5 tahun terakhir. Kami selalu mengawal dan memfasilitasi pertemuan mulai dari kecamatan hingga kabupaten,” jelas Syaiful.

Kini masing-masing rumah yang berjumlah 30 kepala keluarga yang dihuni 300 jiwa ini, harus mengeluarkan biaya besar bila membeli mesin genset secara pribadi.

“Mesin genset itu hanya difungsikan warga menjelang malam hingga pukul 22.00 WIB. Selebihnya warga hidup tanpa aliran listrik,” bebernya.

Keterbatasan biaya untuk membeli solar yang membuat warga tak bisa mengoperasikan mesin genset sepanjang waktu di rumah masing-masing. Terkadang saat BBM Solar langka, masyarakat harus merasakan tidak ada penerangan .

Keadaan ini begitu miris dirasakan anak-anak, terutama yang masih sekolah. Mereka sangat ingin sekali merasakan listrik di kampung mereka.

“Agar saya bisa belajar, Bapak Presiden Joko Widodo, tolong masukan listrik di kampung kami biar kampung kami ini jadi terang,” kata Aisah, pelajar kelas 5 SD sambil meneteskan air mata. (sidik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here